SETETES AIR BAGI DUNIA
Dunia sudah berubah, tak seperti dulu lagi, 20 atau 30 tahun yang lalu. Tak seperti saat masa kecil kita atau tak seperti cerita orang tua kita dikala mereka kecil. Udara semakin panas dan pengap, polusi melonjak sampai batas tinggi, beragam penyakit yang aneh-aneh timbul bagai jamur di musim hujan. Berita banjir dan tanah longsor tak luput dari pendengaran kita, disisi lain bencana kekeringan dan gagal panen juga menjadi keprihatinan kita. Iklim dan cuaca tak bisa diprediksi lagi. Sebentar hujan lebat, sebentar lagi panas menyengat kulit. Musim hujan datang lebih awal, musim kemarau memanjang.
Manusia semakin mudah panas, mudah emosi dan brutal, mengikuti panasnya udara. Mudah putus asa, seperti tiada harapan dan pegangan. Suasana indah dunia ini, gemah ripah loh jinawi tinggal kenangan. Sejuknya udara pagi hari, hijaunya hutan nun jauh di lereng gunung, jernihnya sungai mengalir hanya tinggal angan-angan belaka.
Pemanasan Global ( Global Warming ) dijadikan biang keladi dari semua itu, yang menjadikan keseimbangan alam terganggu. Semua orang lantas berbicara dan membicarakannya. Sebagian sudah sadar dan mengupayakan langkah kongkrit dalam mengatasinya. Sebagian lagi masih enggan berbuat dan merasa tiada daya untuk memberi sumbangsih. Dimana peran kita ¿
Kita bisa berperan. Mari mulai menghemat penggunaan kertas di lingkungan kerja kita, karena pembuatan kertas akan menghabiskan pohon-pohon di hutan. Mari mulai menghemat listrik, agar penggunaan bahan bakar untuk menghasilkan listrik juga bisa dihemat. Mari mulai memilah-milah sampah di rumah , agar limbah yang masih bisa diolah kembali, dapat dimanfaatkan lagi. Mari membangun suasana kerja yang solid, memupuk kesabaran, toleransi dan solidaritas, sehingga tercipta lingkungan kerja yang nyaman. Menghindari persaingan yang tidak sehat dan suasana hati yang mudah emosi, agar dunia ini tidak semakin terasa panas.
Tulah sudah datang, tetapi bagaimana mengolah tulah tersebut menjadi berkat, tinggallah soal pilihan. Pilihan untuk sadar, peduli dan mau sedikit berbuat, daripada hanya apatis. Apa yang kita perbuat memang hanya SETETES AIR BAGI DUNIA yang sudah panas ini. Tetapi air tetaplah air, walaupun setetes, yakinlah dapat memberi kesejukan dan kehidupan bagi para musafir di padang gurun kering.
Mari kita jadikan lingkungan kerja kita ini OASE bagi saudara-saudara kita yang perlu pemulihan dan kehidupan.
Mei 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar